← Kembali ke koleksi
Cerita

ada apa dengan kilang minyak ?

oleh ikaa28 Oct 20266 pembaca
Malam itu, hujan turun seperti ribuan jarum yang menghujam bumi. Langit menghitam, menyembunyikan bulan di balik awan yang bergulung seperti pertanda buruk. Di pinggiran kota yang telah lama dilupakan, berdiri sebuah kilang minyak terbengkalai—bangunan raksasa yang dahulu menjadi pusat kehidupan, tetapi kini menjelma menjadi kuburan besi dan beton.

Tangki-tangki minyak menjulang seperti raksasa yang membatu. Pipa-pipa berkarat melilit dinding, sementara cerobong tinggi berdiri bisu, seolah menyimpan jeritan yang telah terperangkap selama puluhan tahun. Bau minyak tua bercampur tanah basah memenuhi udara. Di tempat itu, waktu seakan berhenti, meninggalkan segala sesuatu dalam pelukan kehancuran.

Penduduk sekitar menyebutnya Kilang Hitam.

Konon, puluhan tahun silam, sebuah kecelakaan misterius terjadi di sana. Api melahap sebagian bangunan, sirene meraung sepanjang malam, dan sejumlah pekerja menghilang tanpa pernah ditemukan. Pihak perusahaan menyatakan bahwa kilang itu ditutup karena kerusakan sistem dan kebocoran bahan berbahaya. Namun, cerita yang beredar dari mulut ke mulut mengatakan hal berbeda.

Ada pekerja yang masih terlihat berjalan di antara tangki-tangki kosong, mengenakan seragam hangus dan helm retak. Ada suara langkah kaki yang terdengar dari lorong bawah tanah, meskipun tak seorang pun berada di sana. Bahkan, beberapa orang bersumpah pernah melihat sosok hitam berdiri di puncak tangki terbesar, menatap jalanan dengan mata merah yang menyala di tengah kegelapan.

Sejak itu, tak ada yang berani mendekat setelah matahari tenggelam.

Namun, larangan justru menjadi pintu bagi rasa penasaran.

Eka, Rial, dan Hanum tidak pernah percaya pada cerita hantu. Bagi mereka, setiap misteri pasti memiliki penjelasan, dan setiap ketakutan hanyalah bayangan yang dibentuk oleh pikiran manusia. Mereka datang bukan untuk mencari sensasi semata, melainkan untuk mengungkap rahasia di balik penutupan kilang yang tak pernah benar-benar dijelaskan.

Mereka tidak tahu bahwa di balik pintu besi yang berkarat, ada sesuatu yang masih terjaga.

Sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam laporan kecelakaan.

Sesuatu yang namanya sengaja dihapus dari seluruh dokumen perusahaan.

Dan sesuatu yang telah menunggu selama bertahun-tahun, mendengarkan setiap langkah manusia yang cukup bodoh untuk memasuki wilayahnya.

Malam itu, ketika Eka mendorong gerbang kilang yang berderit panjang, Rial sempat mendengar suara sirene dari kejauhan. Hanum, yang berjalan paling belakang, melihat sebuah bayangan bergerak di balik jendela ruang kendali.

Mereka berhenti.

"Perasaan kalian juga dengar, kan?" bisik Rial.

Eka mengarahkan senternya ke bangunan utama. "Mungkin cuma suara angin."

Hanum tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada sebuah papan peringatan yang hampir tertutup lumut.

DILARANG MASUK. AREA BERBAHAYA.

Di bawah tulisan itu, seseorang telah menggoreskan kalimat dengan benda tajam.

Jangan bangunkan mereka.

Tiba-tiba, dari dalam kilang terdengar suara logam terbentur.

DANG! DANG! DANG!

Tiga kali.

Kemudian, sebuah suara serak menggema melalui pengeras suara tua yang seharusnya sudah mati sejak puluhan tahun lalu.

"Seluruh pekerja... segera kembali ke pos masing-masing."

Eka membeku.

Rial menoleh ke arah gerbang yang kini tertutup sendiri.

Hanum menggenggam senter dengan tangan gemetar.

Lalu suara itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan, lebih dekat, seolah seseorang sedang berbisik tepat di telinga mereka.

"Kami tahu kalian sudah datang. Sekarang, giliran kalian menggantikan kami."

Di ujung lorong, sesosok pekerja berdiri membelakangi mereka.

Seragamnya hitam oleh jelaga. Helmnya retak. Dari sela-sela bajunya, asap tipis mengepul seperti napas dari tungku yang tak pernah padam.

Perlahan, sosok itu menoleh.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ketiganya menyadari bahwa cerita tentang Kilang Hitam bukanlah sekadar dongeng.

Mereka telah memasuki tempat yang tidak pernah membiarkan siapa pun pergi dengan mudah.
RUANG PEMBACA

Komentar

Jadilah yang pertama berkomentar

Bagikan pendapatmu tentang cerita ini.